Hukum

Kerja Sama Polda Metro dan Jatim Gulung 14 Tersangka Jaringan Ganja Sintetik

EksNews | Aparat Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Polda Jawa Timur mengungkap pabrik pembuatan ganja sintetis alias tembakau gorila. Penggerebekan berlangsung di sebuah aparteman di Surabaya, Jawa Timur yang memproduksi ganja sintetis tingkat industri rumahan (home industry).

Kepala Sub Direktorat 1 Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ahmad Fanani mengungkapkan, aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur dan Polrestabes Surabaya menggerebek Apartemen High Point di Surabaya, Jumat, 7 Februari 2020. Lokasi itu diduga menjadi tempat pembuatan ganja sintetis.

“Total 28 kilogram lebih tembakau gorila termasuk puluhan paket siap edar diamankan. Lalu 10 tersangka dari penggerebakan di lima lokasi berbeda,” katanya, Jumat, 7 Februari 2020.

Sedangkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengujgkapkan 10 tersangka itu adalah RS, MT, FB, PRY, MA, IL, LK, MN, RT, dan DSP. Empat lainnya adalah ARN, WA, NH, dan RTF.

“Dari hasil pengembangan pada hari Sabtu, 8 Februari 2020 dinihari, berhasil ditangkap DSP dari Lapas Sleman dan ARN, NH dan RTF ditangkap di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur,” kata Yusri didampingi AKBP Fanani dalam rilis di Mapolda Metro, Sabtu petang, 8 Februari 2020.

Para tersangka, lanjut Yusri, dikenakan Pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika.. Sanksinya pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1 miliar dan maksimal Rp10 miliar.

Lantas Fanani menjelaskan, terungkapnya pabrik ganja sintetis rumahan itu bermula dari penangkapan pengedar di Jakarta. “Mereka yang di Jakarta itu memesan di Surabaya lalu mengedarkannya di Jakarta. Jadi industri rumahannya di Jatim,” ujarnya.

Pembeli ganja, biasanya memesan secara daring lewat media sosial Line dan Instagram dari produsen yang ada di Surabaya. “Setelah itu, ganja sintetis dikirim kepada pemesan melalui jasa pengiriman,” terangnya.

Ia juga mengungkapkan ganja sintetis yang diproduksi jaringan ini tidak jauh berbeda dengan tembakau gorila. Namun efeknya lebih parah karena si pengguna bisa berhalusinasi dalam tingkat lebih tinggi. Meski demikian, Fanani belum bisa memastikan kandungan apa saja yang terkandung dalam tembakau sintetis tersebut. Sebab, untuk mengetahui kandungan apa saja yang terkandung harus lewat penelitian ahli.

“Kandungannya apa saja nanti ahli yang mengungkapkan. Yang pasti itu membahayakan bagi tubuh,” tuturnya.

Sedangkan Wadir Resnarkoba Polda Jatim AKBP Nasriadi mengatakan dalam penggerebekan ini empat orang berhasil diamankan. Mereka memiliki peran yang berbeda mulai dari peracik zat kimia, pengemas, dan kurir.

Dari TKP penggerebekan, polisi mengamankan sekitar 50 paket ganja sintetis siap edar. Nasriadi mengatakan lokasi penggerebekan telah dijadikan home industry ganja sintetis sejak September 2019.

“Sejak September. Jadi di sini (kamar apartemen) adalah tempat produksinya dan kemudian disebarkan di kota-kota besar di Indonesia. Tersangka merupakan pengangguran ya,” katanya.

Diungkapkannya, dalam sebulan para tersangka dapat memproduksi sekitar 50 kilogram ganja sintetis. Harganya pun lebih mahal dari ganja biasanya. Mereka menjualnya dengan harga per paketnya sekitar Rp400-600 ribu.

Dari pengakuan, para tersangka, bahan-bahan pembuatan ganja diperoleh dari Jawa Barat. Bahan-bahan itu diolah di daerah Malang dan Nganjuk, kemudian dibawa ke Surabaya untuk dicampur zat kimia, dikemas serta diedarkan.

Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan zat-zat kimia seperti alkohol 80 persen, zat esensial, zat pewarna dan zat perasa. Nasriadi menyebutkan, efek halusinasi dari ganja sintetis ini lebih berbahaya dan menyerupai tembakau gorilla.

“Mereka sebut, tembakau gayo yang mereka dapatkan dari Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Kemudian dibawa ke sini dan dicampur dengan zat kimia. Zat itu dikirim oleh bosnya, yang saat ini sedang kami kejar,” ujarnya. ~Abus Tarbian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *