JaBoDeTaBek Unggulan

Aksi Komplotan Wetonan Spesialis Perampok Toko Emas Berakhir

EksNews | Wabah virus corona dan penyakit Covid-19 banyak mengacaukan rencana dan jadwal kegiatan. Tak terkecuali bagi kawanan perampok toko emas beranggotakan lima orang asal Demak, Jawa Tengah yang dikenal sebagai komplotan Wetonan ini.

Lebih dari itu, tiga anggota Wetonan yang mempersenjatai diri dengan pistol rakitan ini tewas diterjang timah panas senjata organik kepolisian dari tim gabungan Polsek Kembangan dan Polres Jakarta Barat. Yang tewas adalah kapten komplotan Wetonan Tugiman, 47, beserta dua anak buahnya: Andre Hermawan, 20, dan Andrean Dwi Ashari, 21.

Tim gabungan melumpuhkan dua anggota kelompok Wetonan lainnya. Mereka adalah Agus Ansori, 23, dan Partono, 49.

“Saat penangkapan sempat terjadi perlawanan dari para pelaku dengan menembak para petugas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi video yang tayang langsung melalui akun Intagram pada Senin, 13/4/20.

Tapi, apalah artinya pistol rakitan melawan senjata organik yang semi otomatis disamping keahlian menembak yang terlatih. Alhasil, tinggal dua anggota komplotan Wetonan ini yang masih dapat bercerita.

Dari cerita Agus dan Partono, Yusri menjelaskan, komplotan ini menamakan diri Wetonan bukanlah sembarangan, melainkan memiliki arti dan menjadi bagian dari modus operandi perampokannya.

Wetonan yang dalam tradisi Jawa menunjukkan tanggal lahir, bagi komplotan perampok spesialis toko emas ini adalah kode atau tanggal khusus untuk merampok, yaitu selalu beraksi pada tanggal 6 dalam kalender masehi.

Begitulah, aksi terakhir komplotan Wetonan ini adalah merampok Toko Emas Pelita, di Pasar Kemiri, Jalan Basmol Raya, Kembangan, Jakarta Barat pada Senin, 6 April 2020. “Mereka telah beberapa kali melakukan perampokan lintas provinsi. Pertama di Kalimantan beberapa kali dan sepanjang Jawa daerah Pantura,” kata Yusri.

Yang paling besar, kata Yusri adalah perampokan pada Jumat, 6 Desember 2019 di salah satu toko emas kawasan Kemayoran Jakarta Pusat. “Nah kelompok ini juga pelakunya, menggasak toko emas di berbagai tempat,” sambungnya.

Dalam konferensi video yang yang sama, Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Audie Latuheru, menjelaskan, komplotan wetonan ini menyiapkan aksinya rata-rata dalam waktu sebulan untuk memantau target sasaran sebelum beraksi. “Kali ini mereka cukup nekat dan memanfaatkan situasi. Jadi saat orang terfokus dengan wabah mereka manfaatkan untuk aksi ini yang memang sudah diawasi satu bulan sebelumnya,” kata Audie.

Sedangkan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Teuku Arsya Khadafi timnya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang melengkapi keamanan dengan berbagai alat seperti CCTV yang memudahkan petugas mengidentifikasi para pelaku kejahatan. Dengan rekaman CCTV juga, kata dia, banyak informasi penting yang terekam dan bermanfaat untuk pengembangan penyelidikan.

Kanit Kriminal Umum Polres Metro Jakarta Barat, Iptu Dimitri Mahendra mengungkapkan, hasil pengembangan penyelidikan, dalam aksinya, satu dari lima pelaku bertugas memetakan situasi di lokasi.

Tukang gambar peta lokasi ini juga bertugas mencari sasaran, memantau situasi di lokasi sebelum komplotan merampok, dan mengamati dari kejauhan saat keempat rekannya beraksi. “Makanya saat kejadian, pelaku yang teridentifikasi itu ada empat orang yang naik dua motor boncengan,” kata dia.

Rupanya, komplotan Wetonan ini memiliki ritual khusus setelah beraksi, yaitu harus membawa hasil rampokannya masuk ke Jawa Tengah dulu. Dalam keyakinan mereka, jika hasil rampokan sudah masuk ke Jawa Tengah, jejak kejahatannya tak akan terndus dan mereka dapat beraksi lagi sesuai dengan ritual yang selama ini mereka laksanakan.

“Jadi setiap selesai beraksi mereka harus berangkat ke Jawa Tengah. Di manapun mereka rampok, itu harus masuk Jawa Tengah agar buang sial dan tidak tertangkap,” kata Yusri.

Nah, dalam aksi terakhirnya, kelompok ini belum bisa membawa 0,5 kilogram emas dan 10 kilogram perak hasil jarahannya di Kembangan ke Jawa Tengah karena terhalang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada saat bersamaan, tim gabungan mengendus keberadaan mereka di tempat kontrakannya, kawasan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.

“Mereka sempat melarikan diri. Tapi ada sweeping di Jawa Tengah sehingga terpaksa kembali dan tertangkap,” kata Kapolres Audie.

Tim gabungan Polsek Kembangan dan Polres Jakarta Barat mengepung tempat komplotan Wetonan ini berkumpul pada Minggu, 12/4/2020 dinihari. Maka, berakhirlah kisah komplotan Wetonan ini.

Wabah virus corona dan Covid-19 membuat berantakan berbagai rencana dan kegiatan. Tak terkecuali aksi kejahatan komplotan Wetonan. ~Abus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *